Saluran air yang tersumbat sampah, pembangunan tanpa perencanaan tata kota yang matang, serta minimnya area resapan membuat air hujan tidak memiliki tempat mengalir. Akibatnya, jalanan berubah menjadi kolam, aktivitas warga terganggu, dan ancaman penyakit mulai mengintai.
Fenomena ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah maupun masyarakat. Bukan curah hujan yang harus disalahkan, melainkan perilaku manusia yang abai terhadap lingkungan. Selama pengelolaan air dan tata kota tidak dibenahi, genangan air akan terus menjadi simbol kegagalan kita dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi yang kian pesat.
![]() |
| Keterangan Foto: Genangan air menutupi sebagian badan jalan di dekat Masjid Blangpulo, membuat pengendara harus berhati-hati saat melintas pada malam hari. (Foto: Dok. ) |
“Pemerintah Kota Lhokseumawe seolah tutup mata terhadap persoalan yang tak kunjung dibenahi ini,” ujar Gilang, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh. Ia menilai bahwa masalah genangan air di Blang Pulo sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasinya.
Menurutnya, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan warga. “Setiap musim hujan, warga selalu menjadi korban. Jalanan tergenang, aktivitas lumpuh, tapi solusi nyata belum terlihat. Pemerintah seharusnya hadir dengan tindakan, bukan sekadar janji,” tegasnya.
Gilang juga mengingatkan bahwa pengelolaan lingkungan yang buruk akan berdampak panjang terhadap kualitas hidup masyarakat. Ia berharap agar pemerintah segera mengevaluasi sistem drainase dan menertibkan pembangunan yang tidak sesuai aturan, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

