Suasana pembukaan MTQ Aceh ke-37 yang berlangsung meriah di arena utama, Sabtu malam. |
KAMELA –Pidie Jaya, Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh ke-37 di Kabupaten Pidie Jaya diterpa persoalan serius hanya beberapa hari menjelang pembukaan resmi. Event besar tingkat provinsi yang seharusnya menjadi ajang kebanggaan masyarakat Aceh ini justru diwarnai kekisruhan akibat ketidakmampuan pihak Event Organizer (EO) dalam menyelesaikan tugasnya.
Pihak EO pelaksana, PT Qpro Creasindo, dikabarkan tidak sanggup menuntaskan pekerjaan dan bahkan meninggalkan tanggung jawabnya. Kondisi tersebut memaksa panitia lokal MTQ Aceh ke-37 mengambil alih seluruh persiapan di menit-menit terakhir.
Panitia Lokal Terpaksa Turun Tangan
Juru Bicara MTQ Aceh ke-37, Saiful Rasyid, membenarkan kondisi darurat ini. Ia menjelaskan bahwa semua tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan oleh EO kini sepenuhnya diambil alih oleh panitia daerah, dibantu para relawan yang bekerja siang malam demi memastikan acara dapat terlaksana sesuai jadwal.
“Karena ketidakmampuan EO, seluruh tugas persiapan, termasuk penyelesaian venue utama, terpaksa kami ambil alih dan kami selesaikan sendiri,” ujar Saiful Rasyid, Sabtu (1/11/2025).
Saiful, yang juga menjabat sebagai Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Pidie Jaya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali mencoba menghubungi EO sebelum memutuskan turun tangan. Namun, seluruh upaya komunikasi tersebut tak kunjung mendapat respons yang jelas.
Sejumlah Venue Belum Rampung
Selain panggung utama, Saiful menambahkan bahwa beberapa lokasi lomba di luar kompleks perkantoran bupati juga belum rampung dikerjakan oleh EO. Hingga kini, panitia lokal terus bekerja keras untuk memastikan seluruh lokasi siap digunakan sebelum acara pembukaan digelar.
“Kami berpacu dengan waktu. Dukungan masyarakat dan para relawan menjadi kunci agar MTQ ini tetap bisa berjalan dengan baik,”
tambahnya.
EO Belum Memberikan Penjelasan
Hingga berita ini diterbitkan, pihak EO, PT Qpro Creasindo, belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan dan permasalahan yang terjadi. Upaya konfirmasi yang dilakukan Kamela News ke pihak perusahaan juga belum mendapat respons.
Kisruh menjelang pelaksanaan MTQ ini menimbulkan banyak pertanyaan publik mengenai proses pemilihan EO dan pengawasan pelaksanaan kegiatan sebesar ini. Pengamat lokal menilai, lemahnya kontrol dan verifikasi kemampuan pihak pelaksana menjadi titik lemah yang perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang.
Acara religius seperti MTQ seharusnya menjadi momentum memperkuat nilai-nilai keislaman dan kebersamaan masyarakat, bukan justru dirusak oleh persoalan teknis dan lemahnya manajemen proyek.
Masyarakat Aceh kini berharap panitia lokal mampu menyelesaikan seluruh kendala teknis agar MTQ ke-37 tetap berlangsung khidmat dan sukses, meski di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya.
Reporter: Tim Kamela
Editor: Redaksi Kamela
