![]() |
| TIM LPMH PEDULI Mengantarkan Bantuan Dok:LPMH |
KAMELA,ACEH UTARA-Banjir besar yang melanda Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, meninggalkan dampak yang sangat serius bagi seluruh warga. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan masif pada permukiman dan memaksa seluruh masyarakat desa mengungsi ke tenda-tenda darurat dengan kondisi yang serba terbatas.
Di tengah situasi darurat tersebut, Tim Jurnalistik Lembaga Pers Mahasiswa Hukum (LPMH) Universitas Malikussaleh hadir langsung ke lokasi pengungsian sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Kehadiran LPMH tidak hanya bertujuan untuk meliput kondisi di lapangan, tetapi juga untuk mendengarkan secara langsung keluh kesah para pengungsi yang hingga kini masih berjuang bertahan di tengah keterbatasan.
Mukhtar, Geuchik Desa Rumoh Rayeuk, menjelaskan bahwa tanda-tanda banjir sebenarnya telah terlihat sejak tanggal 25, seiring meningkatnya debit air dari sumber. Namun, puncak musibah terjadi pada tanggal 26, ketika air naik dengan sangat cepat dan merendam seluruh wilayah desa.
“Banjir ini tanda-tandanya sudah ada sejak tanggal 25. Air sumbernya tinggi, tetapi yang paling parah terjadi di tanggal 26 karena air naik sangat cepat,” ujar Mukhtar saat diwawancarai Tim Jurnalistik LPMH.
Pada puncak banjir tersebut, ketinggian air di wilayah permukiman warga mencapai sekitar sembilan meter. Akibatnya, ratusan rumah warga mengalami kerusakan parah. Dari sekitar 466 rumah yang ada, hanya 52 rumah yang masih berdiri, namun sebagian besar mengalami kerusakan berat. Rumah yang mengalami kerusakan ringan hanya sekitar 10 unit.
Meski beberapa bangunan masih tampak utuh secara fisik, hingga saat ini seluruh rumah di Desa Rumoh Rayeuk belum dapat ditempati. Tingginya endapan lumpur serta kondisi lingkungan yang belum pulih menjadi kendala utama bagi warga untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Bukan hanya rumah yang rusak, tetapi rumah yang masih berdiri pun belum bisa ditempati karena lumpurnya masih tinggi,” tambahnya.
Saat ini, sekitar 1.511 jiwa warga Desa Rumoh Rayeuk masih bertahan di tenda-tenda darurat. Mereka menunggu realisasi janji pemerintah terkait pembangunan hunian sementara (huntara) sebagai tempat tinggal yang lebih layak selama masa pemulihan berlangsung.
“Kami semua sekarang berada di tenda darurat sambil menunggu pemerintah membangun hunian sementara,” kata Mukhtar.
Ia juga menyampaikan harapan besar masyarakat kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait agar segera menghadirkan solusi yang lebih manusiawi. Menurutnya, kondisi tenda darurat yang ada saat ini sangat terbatas dan kurang layak, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit dan cuaca ekstrem.
“Kami berharap, sambil kami bersabar, dapat dibuatkan tempat yang layak atau hunian sementara untuk kami tempati,” ungkapnya.
Selain mendengarkan aspirasi dan keluhan para pengungsi, LPMH Universitas Malikussaleh juga turut mengantarkan sejumlah bantuan sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap warga terdampak banjir. Bantuan yang disalurkan meliputi pakaian layak pakai, air mineral, sabun, odol, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya yang sangat dibutuhkan di tengah kondisi darurat.
Ketua Umum LPMH Universitas Malikussaleh, Muhammad Furqan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Menurutnya, kehadiran LPMH bukan sekadar untuk meliput peristiwa, tetapi juga untuk hadir secara langsung bersama masyarakat.
“Kami datang tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa empati. Kami ingin mendengarkan langsung apa yang dirasakan masyarakat dan memastikan suara mereka sampai kepada pihak-pihak yang berwenang,” ujar Muhammad Furqan.
Ia juga berharap agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat segera mengambil langkah konkret, khususnya dalam penyediaan hunian sementara yang layak bagi para pengungsi.
“Kondisi di tenda darurat tentu tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Anak-anak, perempuan, dan lansia membutuhkan tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, LPMH menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai lembaga pers mahasiswa, tetapi juga sebagai agen kepedulian sosial yang berupaya mengantarkan senyuman, menumbuhkan harapan, serta menyuarakan kondisi para pengungsi agar mendapat perhatian lebih luas dari pemerintah, dermawan, dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian kemanusiaan.
