![]() |
| Foto usai Diskusi HMI Komisariat Pertanian Universitas Malikussaleh dok Kamela |
Forum tersebut lahir dari kegelisahan atas kondisi internal organisasi yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai konstitusional. Konstitusi yang semestinya menjadi pedoman perjuangan kader justru dinilai kerap diabaikan demi kepentingan politik praktis, pragmatisme kelompok, hingga kepentingan elite tertentu.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan kritis mengenai maraknya pelanggaran terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI. Peserta menilai pelanggaran konstitusi bukan lagi sekadar persoalan administratif, melainkan telah menjadi persoalan budaya organisasi yang terus berulang tanpa penyelesaian yang berarti.
Dalam forum tersebut mengemuka pandangan bahwa organisasi akan kehilangan arah apabila aturan hanya dijadikan legitimasi saat momentum-momentum formal, sementara dalam praktiknya kerap diabaikan. Ketika konstitusi dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan, loyalitas kelompok, maupun kepentingan pribadi, maka organisasi sedang bergerak menuju kemunduran, bukan kemajuan.
"Konstitusi bukan sekadar dokumen yang dibuka saat Kongres atau Konferensi. Ia adalah ruh organisasi yang menjaga moralitas kader dan menjadi batas etik dalam menjalankan amanah. Jika aturan dilanggar secara sadar oleh para pemegang struktur, maka yang dipertontonkan bukan kedewasaan organisasi, melainkan kemunduran intelektual di hadapan umat dan bangsa," ungkap salah seorang peserta dialog.
Melalui forum ini, HMI Komisariat Pertanian Unimal menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Dialog menjadi ruang refleksi sekaligus kritik terhadap lemahnya penegakan konstitusi di tubuh organisasi. Mereka mendorong adanya reorientasi gerakan serta penegakan aturan secara konsisten tanpa tebang pilih, mulai dari tingkat komisariat, cabang, badan koordinasi, hingga Pengurus Besar.
Menurut forum, inkonsistensi dalam menegakkan AD/ART hanya akan melahirkan krisis kepercayaan kader terhadap organisasi. Apabila pelanggaran terus dibiarkan tanpa konsekuensi moral maupun struktural, maka identitas HMI sebagai organisasi kader dan intelektual akan semakin kehilangan makna.
Forum juga menyoroti budaya loyalitas personal yang dinilai menjadi salah satu penyebab melemahnya konstitusi organisasi. Ketaatan kepada senior, kelompok, maupun faksi politik sering kali lebih dominan dibandingkan kepatuhan terhadap aturan yang telah disepakati bersama. Akibatnya, kritik dibungkam, pelanggaran ditoleransi, dan konstitusi hanya menjadi simbol administratif yang kehilangan daya ikat.
Para peserta menilai bahwa pembenahan organisasi tidak cukup dilakukan melalui revisi regulasi semata. Restorasi HMI harus dimulai dari pembenahan moralitas, integritas, dan keberanian kader untuk menempatkan konstitusi di atas kepentingan individu maupun kelompok.
Di akhir kegiatan, HMI Komisariat Pertanian Unimal mengajak seluruh kader untuk kembali menjadikan AD/ART sebagai pedoman utama dalam setiap proses pengambilan keputusan organisasi.
"HMI dibangun di atas tradisi intelektual, penghormatan terhadap konstitusi, dan budaya kritik yang sehat. Jangan biarkan konstitusi hanya menjadi dokumen administratif. Selama kader masih lebih patuh kepada kepentingan kelompok daripada aturan organisasi, maka pertanyaan 'Konstitusi HMI: Maju atau Buntu?' akan terus menjadi kritik yang relevan bagi masa depan HMI."
