INFO: KAMELA (Kabar Milenial Aceh) • Informasi Terpercaya Langsung Dari Aceh

Iklan

Iklan

Tim UNBP dan USK Dampingi Produk MP-ASI NABUNG Menuju Izin Edar BPOM

Kamela
Menghitung...
03:00

 


LHOKSEUMAWE — Kelompok PKK Gampong Blang Teue, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, antusias mengikuti pelatihan produksi pangan yang diselenggarakan oleh tim pengabdian gabungan Universitas Bumi Persada (UNBP) dan Universitas Syiah Kuala (USK), Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mendorong produk olahan makanan pendamping ASI (MP-ASI) buatan warga agar memenuhi standar mutu dan memperoleh izin edar dari BPOM.

Produk yang dikembangkan adalah NABUNG (Nugget Ikan Kembung), olahan MP-ASI berbahan dasar ikan kembung dan daun kelor yang memanfaatkan potensi pangan lokal masyarakat pesisir Gampong Blang Teue. Sejak diperkenalkan pada 2025, produk ini telah diproduksi secara rutin oleh kelompok PKK. Namun, pengembangannya masih terkendala konsistensi standar mutu serta belum memiliki izin edar resmi.

Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, setelah berhasil dilaksanakan pada tahun pertama.

Ketua tim pengabdi, Arista Ardilla, S.Tr.Keb., M.K.M., menjelaskan bahwa fokus program tahun ini adalah meningkatkan kualitas produk agar layak dipasarkan secara lebih luas.

"Tahun lalu kita berhasil membangun keterampilan produksinya. Sekarang tantangannya adalah bagaimana produk ini memiliki SOP yang jelas, kualitasnya konsisten, dan yang paling penting mengantongi izin edar BPOM sehingga ibu-ibu dapat memasarkan produknya dengan lebih percaya diri dan menjangkau pasar yang lebih luas," ujarnya.

Sebagai bagian dari proses tersebut, tim BPOM telah melakukan survei ke lokasi produksi pada 18 Juni 2026. Dalam kunjungan itu, petugas meninjau sarana dan prasarana produksi, mulai dari ruang pengolahan, peralatan, hingga sistem penyimpanan bahan baku. Survei tersebut merupakan tahapan awal dalam penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) sekaligus menjadi salah satu syarat pengurusan izin edar.

Selama pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai standardisasi proses produksi, meliputi penentuan takaran bahan baku, pengendalian mutu di setiap tahapan, hingga penerapan sanitasi dan keamanan pangan. Tim pengabdi juga menyerahkan sejumlah peralatan produksi untuk mendukung peningkatan kapasitas dan kualitas hasil olahan. Melalui program ini, kapasitas produksi ditargetkan meningkat dari sekitar 30–50 bungkus per bulan menjadi 80–100 bungkus per bulan.

Anggota tim pengabdi, Ns. Zulkarnaini, S.Kep., M.Kep., mengatakan bahwa peningkatan mutu produk MP-ASI lokal merupakan bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

"Produk bergizi saja tidak cukup jika belum terstandar dan memiliki legalitas. Dengan penerapan CPPOB dan izin edar, produk ini akan semakin dipercaya masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi ibu-ibu PKK," katanya.

Selain pendampingan produksi dan legalitas, kegiatan juga diisi dengan pelatihan pembukuan sederhana, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), serta strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace. Pendampingan tersebut melibatkan anggota tim lainnya, Eka Sutrisna, S.K.M., M.Kes., yang mendampingi kader Posyandu, serta Muhammad Kahfi Aulia, S.Kom., M.Cs., yang menangani aspek teknologi dan digitalisasi program.

Program ini juga melibatkan empat mahasiswa, yakni Zaqiul Maula, Silvia Irawan, Zainur Izwanda, dan Saila Riskia. Mereka berperan dalam mendampingi pelatihan, dokumentasi kegiatan, pendampingan mitra, hingga membantu proses administrasi pengurusan izin edar.

Melalui pendampingan berkelanjutan ini, masyarakat berharap produk NABUNG segera memperoleh izin edar resmi dari BPOM sehingga dapat dipasarkan lebih luas, tidak hanya di Kota Lhokseumawe, tetapi juga ke berbagai daerah lainnya. Program ini diharapkan menjadi contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi pangan lokal yang mampu meningkatkan gizi sekaligus kesejahteraan ekonomi warga.

REDAKSI

Kamela

Kontributor aktif KAMELA. Menyajikan berita terkini dan mendalam dari Aceh untuk generasi milenial.

BAGIKAN KE TEMAN

WhatsApp Salin