INFO: KAMELA (Kabar Milenial Aceh) • Informasi Terpercaya Langsung Dari Aceh

Iklan

Iklan

Refleksi Hari Damai Aceh: Belajar dari Aceh Utara Merayakan Perdamaian

Sarah Humaira
Menghitung...
03:00


Opini oleh: Wahyu Saputra - Sekretaris Jenderal IKA Unimal 

Hari Damai Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus bukan sekadar sebuah tanggal dalam kalender sejarah. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, luka, air mata, pengorbanan, dan harapan masyarakat Aceh untuk hidup dalam suasana yang aman dan damai. Tahun 2026 menjadi tahun ke-21 sejak perdamaian Aceh lahir melalui penandatanganan MoU Helsinki. Dua puluh satu tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk bertanya kembali: sudah sejauh mana kita memaknai perdamaian itu?

Peringatan Hari Damai Aceh tahun ini memberikan sebuah refleksi menarik, khususnya dari Aceh Utara.Di Aceh Utara, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di bawah kepemimpinan Bupati Ismail A Jalil dan Wakil Bupati Tarmizi atau Pasangan yang akrab disapa Ayah Wa-Panyang melaksanakan peringatan Hari Damai Aceh secara resmi di Landeng. Yang menarik bukan hanya soal tempat atau siapa saja yang hadir. Tetapi suasana yang tercipta.

Zikir dan doa bersama menjadi bagian penting dalam peringatan tersebut. Masyarakat berkumpul dalam suasana yang damai, sejuk dan penuh kekhidmatan. Tidak harus selalu dengan seremoni yang berlebihan. Tidak harus dengan panggung yang megah. Ada sesuatu yang sederhana, tetapi justru terasa kuat: masyarakat berkumpul untuk berdoa agar perdamaian Aceh terus terjaga.

Bagi saya, inilah salah satu cara sederhana untuk memahami makna Hari Damai Aceh. Perdamaian bukan tentang seberapa besar acara yang kita selenggarakan. Perdamaian adalah tentang seberapa dalam masyarakat merasakan bahwa mereka memiliki dan membutuhkan perdamaian tersebut.

Belajar dari Aceh Utara. Aceh Utara merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan konflik Aceh. Karena itu, ketika masyarakat Aceh Utara berkumpul memperingati Hari Damai Aceh dengan zikir dan doa, sesungguhnya ada pesan yang sangat kuat di dalamnya. Masyarakat yang pernah merasakan pahitnya konflik kini memilih untuk berkumpul dalam suasana damai.

Masyarakat Aceh Utara tidak sedang merayakan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Masyarakat Aceh Utara sedang merayakan sebuah kesempatan untuk hidup tanpa perang. Di sinilah saya melihat bahwa pemerintah Aceh Utara memiliki peran penting. Pemerintah hadir memberikan ruang, tetapi masyarakatlah yang memberikan jiwa kepada peringatan tersebut. Dan mungkin inilah salah satu pelajaran yang dapat kita  ambil dari Aceh Utara. Peringatan perdamaian akan terasa lebih bermakna ketika masyarakat menjadi bagian utama, bukan sekadar menjadi penonton.

Bagaimana dengan Aceh?

Di tingkat Provinsi Aceh, Pemerintah Aceh juga melaksanakan agenda resmi peringatan Hari Damai Aceh di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh. Agenda tersebut tentu memiliki arti penting. Pemerintah Aceh memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan perdamaian tetap menjadi fondasi pembangunan Aceh.

Namun, pada momentum yang sama, perhatian masyarakat juga tertuju ke Lokasi yang berbeda di Masjid Raya Baiturrahman. Di sana, ulama dan masyarakat berkumpul untuk berzikir dan berdoa. Fenomena ini menarik untuk direnungkan.

Bukan karena kegiatan di Balai Meuseuraya tidak penting. Bukan pula untuk mempertentangkan pemerintah dengan masyarakat. Tetapi justru menunjukkan bahwa perdamaian memiliki tempat yang sangat kuat di hati masyarakat Aceh. Ketika ulama dan masyarakat berkumpul secara sukarela untuk berdoa, kegiatan tersebut secara alamiah mendapatkan perhatian publik.

Ini menunjukkan bahwa semangat perdamaian sebenarnya tidak hanya hidup di ruang-ruang pemerintahan. Ia hidup di masjid, Ia hidup di gampong, Ia hidup di sekolah, Ia hidup di tengah masyarakat. Bahkan ketika tidak ada panggung besar dan tidak ada seremoni resmi, masyarakat tetap merasa perlu memperingati perdamaian dengan cara mereka sendiri.

Perdamaian Bukan Milik Pemerintah.

Ada satu hal yang menurut saya penting untuk ditegaskan. Hari Damai Aceh bukan milik pemerintah.

Ia bukan milik partai politik.

Ia bukan milik mantan kombatan.

Ia bukan milik kelompok tertentu.

Hari Damai Aceh adalah milik seluruh rakyat Aceh.

Karena itu, semakin banyak masyarakat yang mengambil bagian dalam memperingati perdamaian, justru semakin kuat makna perdamaian tersebut. Pemerintah tentu memiliki peran besar dalam menjaga perdamaian. Tetapi pemerintah tidak dapat sendirian merawat perdamaian.

Ulama mempunyai peran.

Tokoh masyarakat mempunyai peran.

Pemuda mempunyai peran.

Akademisi mempunyai peran.

Mantan kombatan mempunyai peran.

Dan masyarakat biasa juga mempunyai peran.

Sebab perdamaian yang sesungguhnya bukan hanya tidak adanya perang. Perdamaian adalah ketika masyarakat merasa aman, mendapatkan keadilan, memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik dan yakin bahwa konflik tidak akan kembali menjadi pilihan.

Jangan Hanya Merayakan Perdamaian

Dua puluh satu tahun Damai Aceh seharusnya menjadi momentum untuk bergerak dari sekadar merayakan perdamaian menuju merawat perdamaian. Kita boleh menggelar seremoni, Kita boleh mengadakan zikir dan doa bersama, Kita boleh membuat berbagai kegiatan peringatan. Tetapi setelah tanggal 15 Agustus berlalu, pekerjaan menjaga perdamaian tidak boleh berhenti.

Perdamaian harus hadir dalam kebijakan.

Perdamaian harus hadir dalam pembangunan.

Perdamaian harus hadir dalam keadilan sosial.

Perdamaian harus hadir dalam kesempatan ekonomi bagi anak muda.

Perdamaian juga harus hadir dalam cara kita menyelesaikan perbedaan.

Sebab sangat mudah mengatakan bahwa kita mencintai perdamaian ketika semuanya berjalan baik, Yang lebih sulit adalah menjaga perdamaian ketika muncul perbedaan kepentingan.

Aceh Utara Memberikan Pelajaran.

Dari Aceh Utara kita dapat belajar satu hal sederhana: perdamaian tidak harus selalu dirayakan dengan kemewahan. Kadang-kadang, sebuah kegiatan yang sederhana justru lebih dekat dengan hati masyarakat.

Pemerintah menyediakan ruang, Ulama memberikan nasihat, Masyarakat berkumpul, Kemudian semuanya berdoa untuk satu hal yang sama: agar Aceh tetap damai, Bukankah itu sesungguhnya inti dari Hari Damai Aceh?

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah peringatan bukanlah seberapa megah panggung yang dibangun. Bukan pula seberapa banyak pejabat yang hadir. Tetapi seberapa kuat pesan perdamaian sampai kepada masyarakat. Dan lebih jauh lagi, seberapa kuat komitmen kita untuk menjaga perdamaian setelah acara selesai.

Panggung Terbesar Ada di Hati Rakyat.

Dua puluh satu tahun Damai Aceh mengajarkan kita bahwa perdamaian tidak boleh berhenti menjadi sebuah seremoni tahunan.

Ia harus menjadi budaya.

Ia harus menjadi cara hidup.

Ia harus menjadi kesadaran bersama.

Apa yang terjadi di Aceh Utara dan Banda Aceh pada peringatan Hari Damai Aceh tahun ini memberikan sebuah gambaran bahwa masyarakat masih memiliki ruang yang sangat besar dalam merawat perdamaian, Pemerintah dapat membuat panggung, Tetapi masyarakatlah yang menentukan apakah pesan perdamaian itu hidup atau tidak, Karena itu, mungkin sudah saatnya kita melihat Hari Damai Aceh bukan hanya sebagai hari untuk mengenang masa lalu, tetapi sebagai hari untuk memperbarui komitmen terhadap masa depan.

Aceh sudah terlalu lama mengenal konflik. Jangan pernah lagi menjadikan konflik sebagai pilihan. Mari menjaga damai dengan cara yang paling sederhana: menghormati perbedaan, memperkuat persaudaraan, menegakkan keadilan dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk membangun masa depan. Dan dari Aceh Utara, kita belajar bahwa terkadang kesederhanaan justru mampu menghadirkan makna yang paling dalam.

Sebab perdamaian tidak membutuhkan panggung yang megah, Perdamaian membutuhkan hati yang tulus untuk menjaganya.

Selamat Hari Damai Aceh ke-21 Tahun 2026.

Semoga Damai Aceh tidak hanya menjadi sejarah yang kita kenang, tetapi menjadi warisan yang kita jaga untuk generasi yang akan datang.

Wahyu Saputra

Sekretaris Jenderal IKA Unimal

15 Agustus 2026

REDAKSI

Sarah Humaira

Kontributor aktif KAMELA. Menyajikan berita terkini dan mendalam dari Aceh untuk generasi milenial.

BAGIKAN KE TEMAN

WhatsApp Salin