KAMELA-Aceh Utara – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, suasana Meugang mulai terasa di sejumlah titik di Kabupaten Aceh Utara. Lapak-lapak penjual daging musiman tampak berdiri di pinggir jalan, diterangi lampu gantung sederhana, dengan potongan daging segar yang tergantung rapi menarik perhatian warga yang melintas. Senin, 16 Februari 2026.
Di kawasan Simpang Rangkaya, keramaian sudah terlihat sejak sore hingga malam hari. Warga datang silih berganti, sebagian berhenti dengan sepeda motor, sebagian lagi memilih langsung daging di meja potong. Tradisi Meugang yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Aceh membuat permintaan daging meningkat tajam setiap menjelang Ramadhan.
Yakop, salah seorang pedagang musiman di Simpang Rangkaya, mengatakan penjualan mulai ramai dalam dua hari terakhir. Ia menjual daging lembu kampung seharga Rp170 ribu per kilogram.
“Daging lembu kampung Rp170 ribu per kilo. Kalau tulang Rp100 ribu, babat Rp50 ribu,” ujar Yakop sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.
Menurutnya, harga tersebut masih relatif stabil. Meski begitu, antusiasme masyarakat tetap tinggi karena Meugang bukan sekadar membeli daging, tetapi juga bagian dari tradisi kebersamaan menyambut bulan penuh berkah.
Suasana malam di bawah rindangnya pepohonan semakin hidup dengan aktivitas tawar-menawar yang akrab. Anak-anak tampak ikut menemani orang tua mereka, sementara para pedagang sibuk memotong, menimbang, dan membungkus pesanan.
Tradisi Meugang di Aceh menjadi momen penting bagi masyarakat untuk menikmati hidangan daging bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan menjelang Ramadhan. Bagi para pedagang musiman seperti Yakop, momentum ini juga menjadi kesempatan menambah penghasilan.
“Alhamdulillah tiap tahun pasti ramai. Semoga sampai puncak Meugang nanti pembeli semakin banyak,” harapnya.
Keramaian lapak daging di Aceh Utara menjadi pertanda bahwa nuansa Ramadhan semakin dekat, membawa semangat kebersamaan, tradisi, dan harapan akan keberkahan di bulan suci.
DI LANSIR DARI RRI
