Tet Karbet, Warisan Tradisi Dentuman Karbit di Pidie

 PENULIS:SARAH   | EDITOR:FURQAN

Warga di Kabupaten Pidie mempersiapkan meriam karbit untuk memeriahkan malam Hari Raya. Dok/Sarah 

Pidie — Suasana malam Hari Raya Idul Fitri kedua di Kabupaten Pidie selalu menghadirkan nuansa berbeda. Dentuman meriam bambu dan drum karbit menggema di tepian Sungai Garot, Kecamatan Indrajaya, menandai berlangsungnya tradisi Tet Karbet yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi ini dulunya digelar pada malam pertama Idul Fitri. Namun, seiring waktu, pelaksanaannya bergeser ke malam kedua karena malam takbiran telah diisi dengan pawai resmi. Meski terkesan sederhana, Tet Karbet tetap menjadi hiburan rakyat yang mampu mempertemukan warga dari berbagai gampong.

“Suara dentuman itu bukan sekadar hiburan, tapi tanda kebersamaan. Kami merasa Idul Fitri belum lengkap tanpa Tet Karbet,” ujar salah seorang pemuda Garot.

Selain meriam bambu atau Tet Bude Trieng, warga juga memanfaatkan drum bekas yang diisi karbit untuk menghasilkan suara yang menggelegar. Dentuman yang bersahutan menciptakan suasana meriah, layaknya panggung pertempuran, namun tetap dipenuhi sorak sorai dan tawa masyarakat.

Bagi masyarakat Pidie, Tet Karbet bukan hanya sekadar pesta bunyi, melainkan simbol kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, sekaligus menjadi perekat solidaritas antarwarga. Di tengah kekhawatiran terkait aspek keamanan, tradisi ini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Dentuman yang menggema hingga larut malam menjadi penanda bahwa Tet Karbet masih hidup dan terus diwariskan, memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Pidie di setiap momentum Idul Fitri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama